Budi Sutarno memperagakan memanah yang benar

Argomulyo. fedep.salatigakota. “Ini adalah panah buatan tahun 79,” Demikian kata Budi Sutarno, pengrajin panah Amor, anggota klaster kerajinan Fedep Salatiga sambil menunjukkan sebilah anak panah tua di kediamannya, pada jumat, 18/8. Budi menjelaskan bahwa ia membuat panahan itu sejak dulu dan saat ini anak panah tahun 79 pun masih ada disimpannya. “Sampai saat ini saya masih kewalahan memenuhi permintaan karena harus berbagi waktu antara produksi dan melatih.” Kata Budi lebih lanjut.

Mata panah dari anak panah buatan Amor

Atlet yang dilatih Budi menunjukkan prestasi yang memuaskan. “Salah satunya menggunakan panahan ini dan berhasil mengoleksi banyak sekali medali emas dan medali lainnya di beberapa event,” Kata Budi melanjutkan penjelasannya. Hal ini semakin menandaskan mutu dan kualitas panahan yang dibuat bisa bersaing di kancah regional dan nasional dibuktikan dengan banyaknya medali yang berhasil di raih.

Ujung Panah dilengkapi bulu untuk memecah angin

Lebih lanjut Budi menjelaskan bahwa anak panah yang dibuatnya ada beberapa macam. Secara ukuran ada yang panjang dan ada yang pendek. Semakin besar postur tubuh pemanahnya maka akan semakin panjang. anak panah untuk pemanah tingkat sekolah dasar misalnya, akan dibuat lebih pendek. Selain itu juga panah dibuat ada yang satu batang ada juga yang tiga batang atau tiga bilah kemudian dijadikan satu.

“Untuk tiga bilah panah ini akan lebih bagus karena menghindari anak panah melengkung, atau tidak lurus karena faktor usia. Bila tiga bilah bambu ini disatukan dari sisi yang berbeda maka akan saling menekan sehingga tetap lurus.” Katanya lebih lanjut.

Terkait dengan busurnya budi menjelaskan bahwa busur juga disesuaikan pemanahnya. Tinggi busur tidak boleh lebih tinggi dari pemanahnya. jadi postur tubuh berhubungan dengan ukuran tinggi busur agar tetap terjaga keseimbangan, kestabilan saat penggunaan dan efektifitas untuk memanah sasarannya. “Silahkan berdirikan busur panah ini, kalau lebih tinggi dari tubuh anda berarti anda tidak boleh memakainya,” Kata Budi menjelaskan.

Dalam kesempatan ini Budi juga menunjukkan anak panah yang dibuat sekitar tahun 80-an. “Ini tinggal satu-satunya, untuk kenang-kenangan.” Kata Budi mewanti-wanti. Panah itu adalah merupakan bagian dari pesanan seorang pejabat istana Surakarta kala itu dan yang sebiji itu adalah yang tersisa.

Pembeli bisa membeli panah beserta busurnya. Selain itu pembeli juga bisa membeli salah satunya, baik busurnya saja ataupun panahnya saja. Satu set panahan biasanya terdiri dari sebuah busur dan 12 bilah anak panah. Nanti saat latihan akan di lihat dari 12 anak panah itu manakah yang paling sering meraih ketepatan tertinggi dan akan ditandai. Anak panah itulah yang biasanya dibawa saat perlombaan. Demikian kata Budi Sutarno mengakhiri penjelasannya./jb

 

Kategori: Berita

Comments are closed.

Tautan

  • Website Pemerintah Kota Salatiga
  • Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
  • Universitas Kristen Satya Wacana